Living Better with Scrofuloderma

Apa itu Skrofuloderma?

Skrofuloderma adalah tuberkulosis subkutan yang menyebabkan pembentukan abses dingin & kerusakan sekunder kulit di atasnya. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak, remaja dan lansia.

Di mana saja predileksi penyakit ini?

  1. Regio parotideal
  2. Regio supraclavicular
  3. Regio submandibular

Apa penyebab Skrofuloderma?

Infeksi mikobakterium (M. tuberculosis (M. TB) / M. bovis / M. atypic) pada kulit akibat penjalaran langsung organ di bawah kulit yang terkena tuberkulosis. Tersering berasal dari kelenjar getah bening, tulang, dan sendi.

Bagaimana manifestasi klinis penyakit ini?

  1. Tampak sebagai nodul subkutan, berbatas tegas, dapat digerakan dengan bebas, tanpa gejala.
  2. Saat lesi membesar, nodul melunak tidak serentak: keras, kenyal, & lunak (abses dingin).
  3. Setelah beberapa bulan, terjadi perforasi.
  4. Timbul fistula & ulkus.

Bagaimana terapi Skrofuloderma?

Ulkus dapat sembuh spontan menjadi:

  • Sikatriks/parut memanjang & tidak teratur (cord like cicatrices)
  • Ditemukan jembatan kulit (skin bridge) di atas sikatriks.

Pengobatan skrofuloderma = pengobatan tuberkulosis sistemik dan melibatkan multidrug regimens (isoniazid, rifampisin, pyrazinamide, ethambutol).

Terdiri dari 2 fase pengobatan:

  • Fase intensif: fase penurunan cepat M. tuberculosis (8 minggu)
  • Fase lanjutan/fase sterilisasi (16 minggu)

Bagaimana cara merawat luka Skrofuloderma?

  1. Perbaikan higiene, menjaga kebersihan diri & lingkungan.
  2. Kompres dengan cairan antiseptik (povidone-iodine 1%) untuk mencegah infeksi lebih lanjut.
  3. Bedah eksisi dapat mengurangi morbiditas & mempersingkat lama pemberian obat.

Hasil pengobatan tergantung pada:

  1. Kekebalan pasien
  2. Kesehatan pasien
  3. Stadium penyakit
  4. Kepatuhan pasien
  5. Durasi pengobatan
  6. Efek samping yang dialami.

Bagaimana kriteria penyembuhan & pencegahan Skrofuloderma?

Kriteria penyembuhan:

  • Fistel & ulkus menutup
  • Kelenjar getah bening mengecil (< 1 cm), konsistensi keras
  • Sikatriks eritematosa menjadi tidak merah lagi
  • Laju endap darah menurun & normal kembali.
Skrofuloderma yang belum mendapat terapi
Skrofuloderma mengalami perbaikan setelah terapi

Pencegahan:

  • Vaksinasi BCG
  • Mengendalikan diabetes & gangguan imun lain
  • Diagnosis dini & pengobatan tepat pada pasien TB paru dapat mengurangi penularan melalui luka pada kulit (port de-entre M.TB)
  • Promosi kesehatan oleh tenaga kesehatan.

Referensi:

  • Sterling, JC. 1. In Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, Orringer JS. Human Papillomavirus Infections. Fitzpatrick’s dermatology (9th ed). New York: Mc Graw Hill; 2019. p. 3035-64.
  • Perdoski. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia.
  • Charifa A, Mangat R, Oakley AM. Cutaneous Tuberculosis. [Updated 2021 Aug 30]. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482220/
  • Roelan T. Practical Review of Diagnosis and Management of Cutaneous Tuberculosis in Indonesia. European Journal of Medical and Health Science. 2021; 3(5): 25-30.
  • Nurman J., Setyanto DB. Skrofuloderma pada Anak: Penyakit yang Terlupakan? Sari Pediatri. 2010; 12(2): 108-115.

Leave a Reply