Mengenal Beauty Shaming #StopBeautyBullying — Muthia Kamal Putri, MD.

As you guys already know before, seorang public figure kenamaan bernama Maudy Ayunda, pernah berbagi sekelumit cerita pilunya di salah satu wawancaranya di salah satu program TV swasta (Metro Tv) mengenai ‘Beauty Shaming’. Kalo yang belum pernah nonton, bisa klik link ini.

Sejujurnya, kasus ‘Beauty Shaming’ ini bukan sesuatu yang baru di kehidupan prempuan-perempuan di dunia, tidak luput — Indonesia. Okay, gw akan lebih nge-highlight Indonesia di sini karena gw tinggal di negara ini. Jujur aja, selama ini istilah ‘Body Shaming’ lebih akrab di telinga ketimbang ‘Beauty Shaming’ dan gw baru pertama kali banget denger juga dari Mbak Maudy ini.

Gw yakin gak sedikit dari kalian yang baca tulisan gw ini yang pernah diledekin fisiknya pas bocah, I would like to declare, before puberty hits you guys hard like a truck. Have you ever received some kind of ridicule about the way you were back then? kalo belum pernah, bersyukurlah Anda yang tidak pernah merasakan ‘Ugly Duckling’ atau ‘Betty Lavea’ phase dalam hidup alias cantik paripurna sejak neonatus (bayi baru lahir). Contoh beauty shaming yang biasanya akrab di telinga bocah perempuan biasanya muncul dari lawan jenis, anak laki-laki ingusan yang ngomongnya pun asal ceplos, such us:

“Jidatnya jenong AHAHAHAHA”

“Eh item!”

“Muke lo kayak bulan, bopeng-bopeng AHAHAHAH”

“idung lo gede kayak vacuum”

“Jelek lu”

“Keriting keribo anak sinting naik kebo”

“Giginya tonggos kayak Ronaldinho”

“Gembrot banget sih kayak boboho”

“Kerempeng kayak tengkorak jalan”

“Cebol”

Dan beragam ejekan yang menurut gw ga pantas untuk disebutkan karena biasanya yang ngatain fisiknya pun gak indah. Biasanya saat dewasa, si anak perempuan malang tersebut akan cenderung jadi pribadi yang insecure saat tumbuh dewasa. Thanks to puberty, banyak dong anak perempuan yang features wajahnya jadi berubah semenjak akil baligh? Glad to hear If you are on of them!

Lantas, apakah luka bathin masa kecil atau remaja kalian hilang? gw rasa nggak. Sebagai seseorang yang sempet ngelewatin masa-masa ugly duckling, gw bisa cukup relate sama tingkat sensitivitas temen-temen cewek di sekeliling gw. Gak jarang cemoohan tentang fisik itupun datang hingga saat dewasa ini, gak cuma diperoleh dari lawan jenis, tapi juga teman wanita– dan biasanya mereka yang denger langsung merungut. Gw notice temen-temen cewek gw sering tersinggung kalo dikatain “muka lo kusem”, “lo iteman deh”, “kecil banget sih lo” atau “gembrot banget sih lo” atau “ya ampun jerawat lo gede-gede banget” bahkan sampai “HAH masa sih AA? buset kayak batere” (ok, jujur yang terakhir itu gw yang nyiptain jokes nya. Body shaming? iya. Gw pernah jadi tersangka).

courtesy: powerpuffgirls

Anak-anak perempuan yang dulunya dikatain tonggos atau giginya gak rapi, langsung ngebet sama orangtuanya minta dibehel. Dulu pas jaman gw SMP-SMA, hampir 80-90% anak perempuan di kelas gw dibehel. Bayangin! (shoutout to Pirelli, temen SMA 70 dulu yang suka bajaj-an bareng buat ganti karet behel di Poliklinik Gigi RSCM di Jl. Aditiawarman). Mereka yang dikatain item, ngebet banget having lighter skin tone supaya lebih desirable. Mereka yang diejek ‘jenong’ jidatnya, mulai sibuk gonta-ganti gaya rambut berponi (dan dikit-dikit megangin poni) demi menutup jidat yang menurut dia aib. Dan beragam manuver kecantikan lainnya yang dilakukan anak-anak perempuan muda belia ini demi sesuai dengan standart kecantikan nasional Indonesia.

So, bisa disimpulin dong apa itu ‘Beauty Shaming” atau “Beauty Bullying”? Gw akan berbagi beberapa poin yang gw sadur dari link ini.

Menurut Femina, beauty bullying adalah suatu tindakan atau agresif yang dilakukan individu bisa berupa komentar verbal tentang fisik dan kecantikan, yang membuat lawan bicaranya merasa terintimidasi, tertekan, dan terhina. Menurut Nuran Abdat, M.Psi, Psikolog Klinis dari Brawijaya Healthcare, yang diwawancara oleh reporter website tersebut,

Beauty bullying ini bisa saja dilakukan oleh orang terdekat, dan kini oleh siapa saja yang terkoneksi melalui sosial media. Perilaku social beauty bullying di media sosial umumnya berupa komentarseputar penampilan seperti make-up, model rambut, fitur fisik, dan lain-lain.  

Nuran juga mengamini bahwa kebanyakan beauty bullying terutama di sosial media, justru terjadi antara sesama wanita. Menurutnya, budaya patriarki yang mengakar pada masyarakat Indonesia sedikit banyak memengaruhi kondisi tersebut. 

“Dibandingkan pria, wanita cenderung tidak mendapat ruang yang cukup untuk mengembangkan kompetensinya, sehingga ketika bearad di lingkungan sosial, kompetisi yang muncul menjadi tidak sehat. Wanita menilai dirinya atau person value-nya dari luar, penampilan fisik yang kasat mata menjadi salah satunya. Selain itu, wanita juga terpendam dalam mengeluarkan emosi atau agresinya. Maka ketika ada sosial media, yang tidak perlu bertatapan muka, komentar yang disampaikan jadi cenderung agresif,” terang Nuran. 

Gak banyak literatur yang gw temukan, namun menurut salah satu artikel kasual Medium,

Sexist thinking has socialized women to internalize that most of our value rests upon our appearance. As girls, we learn that our beauty is more important than our brains. We strive to fit into impossible standards of beauty. And if we don’t fit, we can’t move through the world as easily as those who do.

We must understand that we can never be fully liberated if we do not develop healthy self-esteem and self-love.

Beauty has become a currency of sorts. It pits women against each other. It keeps us focusing on the wrong things; It ties up our time (how long does it take you to get ready in the morning vs. a man?). It makes us hate ourselves.

As I’ve said before, self-hatred is a multi-billion dollar industry.

Segitu toksiknya ya Beauty Shaming ini?

Tindakan ngomentarin cara bermake up seseorang pun ternyata termasuk dalam kategori Beauty Shaming, loh. Wearing too much make up, too simple make up, too flattery for an occasion, too many things I can’t list one by one. Ungkapan sesama perempuan yang dilontarkan pun biasanya berformat seperti, “Ah, dia mah cantiknya make up doang!”. Well, fungsi make up memang diperuntukan untuk merias apa yang sudah sejatinya dimiliki perempuan tersebut. Not admiting ones beauty is a toxic behaviour that build-in within this beauty shaming society, mencari-cari celah bahwa seseorang ga mungkin sesempurna itu adalah sikap yang seharusnya ga perlu kita pelihara, hanya semata-mata menaikan ego-boost diri kita.

Tau value diri kita dengan baik pun sudah cukup, jadilah high profile seenggaknya buat diri kita sendiri. Inget aja, we’re in this body forever. Pun sampai mati kita akan berada di tubuh ini. We built different and unique. Let’s lift each other up by telling good things you adore to one another.

Lastly, gak ada yang salah kok dengan konsep mempercantik diri atau merubah sesuatu untuk menyokong kepercayaan diri. Do it just because you want it, just the sake of your comfort,

BUKAN KARENA TUNTUTAN ORANG LAIN 🙂

1 Comment

Leave a Reply