OVERWASHING DAN RISIKO EKSIM: DAMPAK TERSEMBUNYI DI BALIK kebersihan tangan

Sejak pandemi COVID-19, praktik kebersihan tangan seperti mencuci tangan dan penggunaan hand sanitizer meningkat drastis sebagai langkah utama dalam mencegah transmisi infeksi. Intervensi ini terbukti efektif dalam menurunkan penyebaran penyakit menular dan menjadi bagian penting dari strategi kesehatan masyarakat global. Walau demikian, peningkatan frekuensi kebersihan tangan ini juga memunculkan konsekuensi yang sering terabaikan, yaitu kerusakan barrier kulit akibat overwashing atau pembersihan yang berlebihan. Kulit merupakan barrier utama tubuh, terutama melalui lapisan stratum korneum yang tersusun atas korneosit dan lipid interseluler. Struktur ini menjaga keseimbangan hidrasi sekaligus melindungi dari mikroorganisme dan zat iritan. Aktivitas mencuci tangan yang terlalu sering, terutama dengan sabun berbahan keras atau air panas, dapat menghilangkan lipid alami kulit, meningkatkan transepidermal water loss (TEWL), serta mengganggu keasaman (pH) kulit. Kondisi ini menyebabkan kulit menjadi kering, rentan iritasi, dan mengalami penurunan fungsi protektif .

Berbagai dampak klinis dari overwashing meliputi kulit yang kering (xerosis), kemerahan (eritema), rasa perih, hingga dermatitis kontak iritan. Penggunaan sabun dengan pH alkalis serta kandungan surfaktan juga dapat memperburuk kerusakan barrier kulit, sementara hand sanitizer berbasis alkohol dapat menyebabkan denaturasi protein dan pelarutan lipid kulit. Jika berlangsung terus-menerus tanpa perawatan kulit yang adekuat, kondisi ini dapat berkembang menjadi peradangan kronis pada kulit tangan. Salah satu manifestasi penting dari kerusakan kulit akibat overwashing adalah hand eczema, yaitu peradangan kulit yang terbatas pada tangan dan pergelangan tangan dengan prevalensi mencapai sekitar 14,5% di populasi umum. Kondisi ini bersifat signifikan karena dapat menimbulkan gangguan fungsional sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Etiologinya multifaktorial, melibatkan faktor endogen seperti dermatitis atopik sebagai faktor risiko utama, serta faktor eksogen seperti alergi kontak dan paparan iritan .

Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi mencuci tangan dan risiko hand eczema. Studi meta-analisis menunjukkan bahwa mencuci tangan sebanyak 8–10 kali per hari sudah meningkatkan risiko sebesar 1,51 kali, dan meningkat menjadi 1,66 kali pada frekuensi 15–20 kali per hari. Hal ini menunjukkan adanya hubungan dose–response, di mana semakin sering mencuci tangan, semakin tinggi risiko terjadinya eksim tangan. Selain itu, aktivitas wet work juga meningkatkan risiko secara signifikan, karena paparan air yang berulang mempercepat kerusakan barrier kulit. Sebaliknya, penggunaan hand sanitizer berbasis alkohol tidak terbukti meningkatkan risiko hand eczema secara signifikan. Bahkan, dalam beberapa studi, sanitizer dinilai lebih sedikit menyebabkan iritasi dibandingkan sabun, terutama jika mengandung pelembap. Persepsi bahwa sanitizer lebih merusak kulit kemungkinan berasal dari sensasi perih saat diaplikasikan pada kulit yang sudah mengalami kerusakan sebelumnya, bukan karena efek utama alkohol itu sendiri.

Selain kerusakan barrier, overwashing juga mengganggu keseimbangan mikrobiota kulit. Flora normal kulit berperan dalam mempertahankan homeostasis dan mencegah kolonisasi patogen. Pencucian berlebihan dapat menyebabkan disbiosis, yang justru meningkatkan kerentanan terhadap infeksi dan memperburuk kondisi inflamasi kulit seperti eksim. Oleh sebab itu, penggunaan pelembap secara rutin, terutama setelah mencuci tangan, merupakan langkah utama dalam mempertahankan kelembapan/hidrasi dan memperbaiki barrier kulit. Disarankan penggunaan sabun yang lembut, hipoalergenik, serta mengandung humektan seperti gliserin. Selain itu, penggunaan air hangat dan menghindari air panas juga penting untuk mencegah kehilangan kelembapan kulit. Pada kondisi yang lebih berat seperti dermatitis atau eksim aktif, terapi farmakologis dapat diperlukan. Kortikosteroid topikal digunakan untuk mengurangi inflamasi, antihistamin untuk mengatasi pruritus, serta emolien sebagai terapi dasar yang harus digunakan secara berkelanjutan. Edukasi mengenai praktik kebersihan yang tepat juga sangat penting agar masyarakat tidak terjebak dalam kebiasaan overwashing yang merugikan .

KESIMPULAN

Overwashing merupakan fenomena yang meningkat sejak pandemi dan memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan kulit, terutama dalam meningkatkan risiko hand eczema. Meskipun kebersihan tangan tetap penting dalam pencegahan infeksi, praktik yang berlebihan tanpa diimbangi perawatan kulit yang tepat dapat merusak barrier kulit dan memicu inflamasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang seimbang antara menjaga kebersihan dan mempertahankan integritas kulit untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA

Loh EDW, Yew YW. Hand hygiene and hand eczema: A systematic review and meta-analysis. Contact Dermatitis. 2022;87(4):303-314.

Larson E. Hygiene of the skin: When is clean too clean? Emerging Infectious Diseases. 2001;7(2):225-230.

Makhakhe L. The flip side of frequent sanitising and hand washing. South African Family Practice. 2023;65(1):e1-e4.

Roy S, Iktidar MA, Saha AD, Chowdhury S, Hridi STT, Tanvir SMS, Hawlader MDH. Hand hygiene products and adverse skin reactions: A cross-sectional comparison between healthcare and non-healthcare workers of Bangladesh during COVID-19 pandemic. Heliyon. 2022;8(12):e12463.

Himabindu CS, Tanish B, Priyapriy DP, Kumari NP, Nayab S. Hand sanitizers: Is over usage harmful? World Journal of Current Medical and Pharmaceutical Research. 2020;2(5):296-300

Leave a Reply