Dari meja belajar

Salam sejahtera untuk Profesor, Guru Besar, dan seluruh civitas akademika pendidikan dokter yang setia mengikuti konten kami di Dermapamine.com.

Perkenalkan kembali, saya dr. Muthia Kamal Putri. Bersama surat ini, mohon perkenankan saya memperkenalkan diri lebih jauh dan mengemukakan motivasi saya untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang lebih lanjut sesuai keminatan klinis saya, yaitu di bidang Dermatologi dan Venereologi. Saat ini, saya bertugas sebagai dokter umum di RSUP Dr. Sitanala setelah sebelumnya magang klinis di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin dan Kusta Terpadu rumah sakit yang sama. Saya aktif sebagai founder sebuah platform edukasi kasual-kreatif yang membahas tentang keilmuan dermatologi dan venereologi (www.dermapamine.com/ @dermapamine) yang akan saya jelaskan lebih lanjut melalui surat ini. 

         Masih segar di ingatan saya, dari platform gagasan saya tersebut itulah saya memperoleh tawaran magang oleh KSDLI Perdoski sebagai admin dan membantu jalannya kegiatan ilmiah berupa penulisan editorial Newsletter ‘ENLIGHT’ dan berbagai webinar serta pelatihan seputar dermatologi laser selama masa pandemi COVID-19. 

            Menjadi dokter, merupakan cita-cita yang saya pupuk sejak saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sejak lulus dari SMAN 70 Jakarta tahun 2012, saya diberikan oleh Allah jalan untuk melanjutkan pendidikan di tempat asal ibu saya, Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah. Merantau adalah jalan yang tak terduga yang memaksa saya untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, menjaga integritas, meski tanpa pendampingan orangtua. 

         Pada tahun kedua di pre-klinik (S1) di Fakultas Kedokteran Unsoed, saya sudah menaruh keminatan pada cabang keilmuan kulit dan kelamin. Pada saat bersamaan saat blok Dermato berlangsung, Alhamdulillah, saya juga mendapatkan amanah menjadi Asisten Dosen Laboratorium Patologi Anatomi di kampus. Saya menaruh interest di kedua bidang tersebut dimana keduanya pun menurut saya memeliki kesamaan: pembelajarannya melibatkan sensory visual dan mendetail, keduanya bisa sama-sama terekspos dengan jelas dimana dapat dibedakan antara jaringan sehat dan jaringan yang patologis. Keduanya sama-sama menarik perhatian saya untuk bisa mengetahui lebih lanjut mengenai banyak hal yang berkaitan di dalamnya. Ketertarikan saya pada saat itu terhadap mata kuliah dermatologi dan venereologi ternyata tak cukup mengantarkan saya lulus materi dermato. Saya remedial di ujian pertama. Sempat terbesit rasa sedih dan merasa tidak berkompeten untuk bisa memantaskan diri menuju cita-cita saya, namun saya tidak patah semangat. Di hari remedial, saya mencoba memperbaiki cara belajar saya dan mencoba lebih tekun mempelajari materi kulit dan kelamin dengan lebih terperinci, mulai dari membedakan effloresensi/ Ujud Kelainan Kulit (UKK), definisi, etiopatogenesis, patofisiologi, diagnostik klinis  hingga terapi. Alhamdulillah, Tuhan memberi saya kekuatan untuk lebih percaya diri menjalani ujian perbaikan sehingga saya lulus dengan nilai yang baik.

       Semasa saya menjalani kepaniteraan klinik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, saya menanti-nanti rotasi stase kulit dan kelamin. Saya berusaha aktif dan belajar dengan maksimal untuk stase ini. Setiap malam, saya sempatkan menulis rangkuman dan me-re call materi dari dosen pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Semua saya lakukan dengan hati yang bahagia dan tanpa beban, karena saya meyakini bahwa menjadi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin merupakan tujuan hidup saya. Meskipun saya sudah mempersiapkan diri dengan matang untuk menghadapi hari ujian, Tuhan memberikan saya tantangan lain di hari ujian slide/ OSCE. Saya grogi, deg-degan sehingga pada saat itu kurang maksimal dalam menjawab soal. Meskipun nilai saya baik di ujian Computerized Based Test, hasil yang sama tidak terjadi pada ujian slide. Pupus harapan saya untuk mendapat nilai A di rotasi kulit dan saya harus puas dengan nilai B. Saya memang bukan murid terbaik saat masa pendidikan dulu, namun saya punya semangat yang tinggi untuk terus berkembang lebih baik. Kegagalan hanya kesuksesan yang tertunda. Seperti prinsip bola bekel, saya harus bounce back.

         Bagi saya, ada dua sayap yang dapat menerbangkan manusia ke derajat yang lebih mulia, yaitu niat dan tekad. Bagai melakukan pendakian, hanya doa dan kedisiplinan yang bisa menyelamatkan saya selama masa pendidikan dokter. Meskipun nilai stase favorit saya hanya B, saya tetap kekeuh dengan pendirian saya untuk tetap memacu kompetensi diri. Meski stase kulit dan kelamin sudah berakhir, saya kerap kali mendatangi bangsal perawatan kulit atau bahkan memperhatikan kondisi kulit pasien non-dermatology di setiap rotasi disiplin keilmuan selain kulit dan kelamin. Saya memperhatikan karakter kulit pasien pada diabetes melitus di rotasi stase interna, melihat xerosis kutis pada pasien karsinoma kolorektal pasca pengobatan chemoteraphy di rotasi stase bedah, dan leukoderma pada pasien geriatri yang menjalani terapi stroke. Beberapa ilustrasi tadi, menjadi pokok pikiran atau turning point saya bahwa profil kesehatan kulit dapat menggambarkan kualitas kesehatan seseorang, tidak hanya segementasi kecantikan semata. Organ kulit adalah organ terluas yang tentunya tidak bisa diabaikan.

           Saya belajar mandiri dengan menemukan berbagai kasus, baik yang saya temui langsung atau dari gambar-gambar pasien temuan sejawat saya. Beruntung adalah kata tepat menggambarkan diri saya, sahabat-sahabat saya di masa pendidikan tahu betul bahwa saya sangat menggemari materi kulit dan kelamin sehingga mereka dengan suka rela berbagi ‘sumber belajar’ meski hanya berupa gambar-gambar effloresensi unik dan menarik bahkan asing bagi saya – melalui aplikasi chat di smartphone

          Jika tidak bisa jadi yang paling unggul, jadilah kreatif – itu lah strategi belajar saya. Saya mencari kontak residen yang sedang menempuh pendidikan spesialis Dermatologi dan Venereologi dari alumnus kampus saya untuk meminta kesediaan bermain tebak-tebakan diagnosis dan terapi terhadap kasus-kasus yang saya dapati. Metode belajar ini, sangat memicu semangat saya karena saya bisa berkesempatan mengetahui banyak gambaran klinis baik itu kompetensi dokter umum, hingga kompetensi residensi. Bukan karena saya pintar, tapi karena saya lebih dulu tahu, meskipun saya tahu gambaran tersebut di luar kompetensi saya untuk Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKMPPD).

          Selang waktu berlalu, saya berhasil menyelesaikan pendidikan dokter profesi yang penuh tantangan dan kerikil tajam. Saya diberkahi Tuhan kesempatan lulus sekali coba pada UKMPPD periode November 2018. Setelah itu, saya menjalani Program Internship Dokter Indonesia, tepat di saat pandemi COVID-19 berawal. Saya pun bertekad untuk membangun sebuah platform atau wadah edukasi pembelajaran kulit dan kelamin yang sifatnya kreatif dan kasual, sehingga lebih bisa dinikmati generasi saya, millennial dan gen-Z.

Nama ‘Dermapamine’ muncul di pikiran saya saat itu. Dermapamine diambil dari dasar kara Dopamine, suatu hormon/ neurotransmitter pada otak manusia yang meregulasi kemampuan fokus, rasa bahagia, dan rasa jatuh cinta. Saya mengganti suku kata ‘Do’ menjadi ‘Derma’ yang artinya kulit. Saya juga memiliki filosofi bahwa kulit dan otak memiliki keterikatan karena sejatinya kulit dan otak berasal dari lapisan embrionik yang sama yaitu ectoderm. Prinsip psikodermatologi inilah yang mempengaruhi proses relasi kulit dan otak, “Apa yang dipikirkan akan mempengaruhi kesehatan kulit” dan sebaliknya, “Apa yang terjadi pada kulit dapat mempengaruhi pikiran”.

               Saya sadar betul bahwa saya belum berkompetensi legal untuk bisa menyebarkan edukasi kulit dan kelamin karena saya masih dokter umum dan belum mengenyam pendidikan spesialis, untuk itu, saya meminta bantuan secara personal pada dokter-dokter Sp.KK/DV fresh graduates dari berbagai universitas ternama, seperti Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Gadjah Mada. Saya juga mengajak sejawat-sejawat saya dari berbagai intitusi pendidikan kedokteran untuk turut serta menulis konten, mempercantik tulisan melalui proses editing, dan mengunggahnya di platform media sosial Instagram @dermapamine dan website www.dermapamine.com.      

            Di usia 26 tahun, dengan izin Allah, saya berhasil mengumpulkan 26 orang dokter umum dan Sp.KK/DV yang turut membantu proses penulisan dan mensupervisi karya-karya kontributor dermapamine, termasuk saya sendiri. Tujuan besar saya adalah menghilangkan kompetisi dengan bekerjasama dalam dinamika mengejar cita-cita kami semua, menjadi dokter Sp.KK/DV serta menciptakan kondisi familiar dengan kasus-kasus kulit yang tidak mungkin kami bisa temui dengan mudah di masa pandemi. Semua teman dan dokter supervisor bersedia scara suka rela berbagi edukasi di platform tersebut tanpa dibayar sepeserpun (non-profit). Semuanya kami lakukan demi pengabdian kami dalam keilmuan Dermatologi dan Venereologi. 

          Pengabdian saya di Dermapamine, tidak disangka-sangka justru membukakan jalan saya untuk mencicipi circumstances dunia kesehatan kulit dan kelamin menjadi semakin dekat. Kami turut ikut serta aktif menggalakn campaign penyakit kuli dan kelamin dan pada awal 2021, oleh Dr. dr. Dhelya Widasmara, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV dipromosikan sebagai salah satu pemanfaatan sosial media yang baik dalam Webinar Hari Kusta Sedunia KEMENKES RI. 

           Alhamdulillah, jelang dua minggu sejak saya membangun platform tersebut, saya direkrut oleh Kelompok Studi Dermatologi Laser Indonesia di bawah naungan Perdoski. Saya dibimbing langsung oleh dr. Ruri D. Pamela, Sp.KK, seorang dermatovenereologist muda yang merupakan salah satu role model saya di lingkup pendidikan kulit dan kelamin yang lebih kreatif. Saya menjalani masa kontrak magang di KSDLI selama satu tahun lebih terhitung sejak selesai internship, di bawah kepemimpinan dr. Amaranila Lalita Drijono, Sp.KK, FINSDV, FAADV. 

          Setelah genap sembilan bulan menempuh program internship tersebut, saya secara mandiri mendaftar diri untuk magang di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin serta Kusta Terpadu RSUP Dr. Sitanala (eks-RS Kusta Dr. Sitanala) yang lokasinya tidak jauh dari kediaman saya tinggal di Tangerang. Saya juga mendapat kesempatan bekerja satu tahun di RS tersebut untuk menggugurkan syarat mengikuti seleksi pendidikan spesialis di Universitas Ailangga, yaitu pengalaman bekerja satu tahun. Saya ditugaskan di Intalasi Gawat Darurat -Ruangan Rawat dan turut menangani kasus-kasus COVID-19. Saya juga beberapa kali berkesempatan menemui kasus-kasus kusta serta kegawatdaruratan kulit dan kelamin yang konkomitan dengan kasus COVID-19, bahkan manifestasi kulit akibat COVID-19. Dari salah satu kasus tersebut, saya jadikan bahan pembelajaran untuk membuat laporan kasus yang saya tulis di bawah bimbingan dr. Prima Kartika Esti, M. Epid, Sp.KK dan dr. Eka Komarasari, Sp.KK di RSUP Dr. Sitanala. Dengan izin Allah, saya diberikan kesempatan untuk mempresentasikannya dalam kesempatan International Scientific Meeting on Cosmetic Dermatology-2 dalam forum Free Paper.

           Rasa penasaran yang tinggi, tekad untuk berkembang menjadi insan yang lebih baik, niat besar untuk bisa bermanfaat untuk masyarakat, dan membahagiakan orangtua adalah prinsip yang memupuk saya untuk meningkatkan keilmuan di bidang Dermatologi dan Venereologi. Dalam rangka proses belajar yang sejatinya tak akan pernah berakhir, saya berniat untuk melanjutkan program studi saya ke jenjang spesialisasi Dermatologi dan Venereologi. Saya percaya dan meyakini, dengan nilai-nilai yang dijunjung oleh guru-guru saya. Ada pun motivasi lain yang saya miliki yaitu beberapa sosok role model di peta dunia kedokteran kulit dan kelamin di Indonesia berasal dari prodi tersebut.

          Besar harapan saya, melalui surat ini, saya bisa menyampaikan kesungguhan hati saya untuk bisa menempuh pendidikan ke jenjang lanjut di bidang Dermatologi dan Venereologi. 

Semoga Allah senantiasa memeluk mimpi saya dan 34 kontributor lain yang terkasih.

Salam redaksional dari kontributor nomor urut 1 dari 35 kontributor di Dermapamine.com,

Muthia Kamal Putri

Leave a Reply