SKIN SENPAI* OF THE YEAR 2021

*senpai (先輩, “senior”) a honorific term for more experienced / upper class doctor in Dermatovenereology major.

Disusun oleh Dermapamine Contributors: dr. Caroline Astrid, dr. Leoni Agnes, dr. Anna Rumaisyah Abidin, dr. Muthia Kamal Putri, dan dr. Geby Khomaro Putri.

Pemberian penghargaan Skin Senpai* of The Year merupakan agenda rutin dari Dermapamine. Hal ini bertujuan memberikan inspirasi bagi Dopamine Seekers terutama dalam mengejar mimpi mendalami keilmuan di bidang dermato-venereologi.

Dokter Ruri merupakan sosok inspiratif tahun 2021 bagi kami. Beliau lahir di Medan pada tanggal 20 Oktober 1980 sebagai putri dari Purn Mayjen TNI DR. Bambang Heru Sukmadi, MSc.  Dokter Ruri atau yang biasa kami sapa dengan DokRuri adalah seorang dokter spesialis kulit dan kelamin yang kini juga memiliki peran sebagai istri bagi Kapten CKM dr. Moh Firman Syarif, Sp.Rad sekaligus ibu bagi Muhammad Fahran Aryo Arfino dan Queena Rania Jasmine.

Sekilas mengenai riwayat pendidikan Beliau, Beliau merupakan alumni dari SMAN 99 Jakarta Timur. Pasca menuntaskan studi di SMAN 99, Beliau melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (FK UKI) dan berhasil meraih gelar dokter umum. Selepas dari FK UKI, Beliau lanjut bekerja di RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta Pusat. Berkat ketekunan dan semangat Beliau untuk terus mengembangkan diri, setelah bekerja di RSPAD Gatot Subroto, Beliau berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan melanjutkan karier sebagai dokter umum di RS dr. Suyoto Pusat Rehabilitasi Kemhan Jakarta Selatan sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan ke Program Pendidikan Dokter Spesialis Program Studi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, angkatan September 2011.

DokRuri juga aktif dalam berbagai organisasi Kelompok Studi Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) diantaranya yakni Sekretaris III Kelompok Studi Dermatologi Laser Indonesia (KSDLI) Periode tahun 2017-2021, Anggota Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI), Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI), dan Kelompok Studi Psoriasis Indonesia (KSPI).

Sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin, Beliau memiliki berbagai prestasi, salah satunya adalah menjadi salah satu founder id.derms, sebuah media edukasi mengenai kesehatan kulit dan kelamin di Instagram yang beranggotakan para dokter spesialis kulit dan kelamin Indonesia. Pada tahun 2021, id.derms berhasil mendapatkan penghargaan Rekor MURI sebagai “Edukasi Kesehatan Kulit dan Kelamin di Instagram dengan Episode dan Topik Terbanyak”.

Nah, kira-kira apa sih yang melatarbelakangi DokRuri untuk melanjutkan ke PPDS Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin? Berikut adalah hasil wawancara Dermapamine Club dengan dr. Ruri Diah Pamela, Sp.KK, FINSDV. Silakan disimak, ya!

Selamat sore dokter, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berbincang bersama Dermapamine dalam sesi wawancara Skin Senpai of The Year 2021. Sudah mau penghujung tahun 2021, Dok, kira-kira kesibukan apa saja yang Dokter jalani dan hal-hal menarik apa yang dokter temui selama tahun 2021 ini?

DokRuri:

Kesibukan di 2021 yang pertama, yaitu sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin. Walaupun sedang di masa pandemi, aktivitas sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin tidak terhenti dan ternyata banyak kasus kulit yang baru bermunculan misalnya terminologi baru seperti maskne, lalu hand dermatitis seperti DKA, hingga eksim. Termasuk manifestasi kulit pada COVID-19, saya banyak menerima konsul-konsul dari dokter spesialis penyakit dalam mengenai hal tersebut. Selain itu saya juga aktif mengerjakan banyak program di  KSDLI. Lalu sebagai scientist karena saya suka menulis dan menulis merupakan kegiatan yang tidak bisa terpisahkan dari saya. Saya juga aktif di bidang edukasi masyarakat, sebagai bagian dari id.derms. Alhamdulillah, saya senang sekali karena id.derms sudah diakui dan mendapat penghargaan. Lalu kesibukan dalam keluarga tentunya, salah satunya mendampingi dua anakku walaupun mereka belajar secara virtual. Anak pertama baru masuk SMP dan yang kedua baru kelas 1 SD. Ada banyak hal-hal lain yang harus dikerjakan sendiri karena suami saya seorang tentara dan saat ini sedang ditugaskan di Banda Aceh.

Apa yang melatarbelakangi Dokter memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Spesialis Kulit dan Kelamin?

DokRuri:

Banyak yang beranggapan kalau tidak mau jaga malam sebaiknya masuk spesialis kulit dan kelamin saja. Namun, bukan hal itu yang membuat saya memilih untuk melanjutkan ke spesialis kulit dan kelamin. Flashback sedikit, sejak kecil saya erat dengan dunia tentara karena saya adalah anak tentara. Setelah saya lulus dokter umum, saya bekerja sebagai dokter umum honorer di RSPAD. Lalu setelah menjadi PNS, saya bekerja di RS dr. Suyoto. Karena Suyoto merupakan RS tentara, pasien yang berobat mayoritas adalah tentara. Banyak dari tentara-tentara yang ditugaskan ke daerah-daerah di mana daerah tersebut belum terdapat dokter. Alhasil, saat ditangani di Suyoto para tentara tersebut sudah dalam kondisi yang berat. Salah satu keluhan kulit yang paling sering dialami oleh para tentara ialah jamur pada kaki, karena mereka harus mengenakan sepatu boots. Dan pada saat itu di Suyoto belum ada dokter spesialis kulit dan kelamin. Itulah yang membuat saya tergerak dan ingin dapat berkontribusi di bidang yang saya kuasai. Kalau nggak ada jaga malam dan musti cantik-cantik itu hanyalah bonus sebenarnya.

Hal lainnya yang membuat saya menyukai bidang ini karena saya merasa challenging saat menangani kasus kulit. Lesi kulit yang dapat menyerupai banyak diagnosis penyakit membuat saya berpikir kritis. Kulit adalah organ terluar yang tampak dari seseorang sehingga kulit merupakan cerminan awal kesehatan kita. Sehingga selayaknya kita menjaga organ lain, kulit pun juga harus dirawat.

Selanjutnya, siapakah sosok dermatologist yang menjadi role model untuk Dokter?

DokRuri:

Siapa yang saya temui dalam perjalanan karir saya, itulah yang menjadi role model saya. Saat saya masih menjadi dokter umum, saya pernah membaca buku karangan dokter Jeanette Graph, seorang dermatologist dari Amerika Serikat. Beliau menulis buku tentang cara merawat kulit untuk awam. Dan setelah membaca buku Beliau, saya terinspirasi untuk menjadi dokter kulit. Lalu berlanjut saat PPDS, sosok yang menjadi role model bagi saya adalah dr. Hendra Gunawan, Sp.KK(K), Ph.D, FINSDV, FAADV yang menjadi pembimbing thesis saya. Beliau sangat berdedikasi di bidang kusta dan rela membimbing mahasiswanya sampai pagi-pagi. Lalu saat saya bergabung di organisasi KSDLI, sosok yang menjadi role model bagi saya, yaitu dr. Amaranila Lalita Drijono, Sp.KK, FINSDV, FAADV dari cara dan pola pikir Beliau. Beliau mempunyai sisi itu yang patut dicontoh. Intinya sesuai dengan perjalanan karir di bidang kulit saja, saya belajar banyak dari setiap orang yang saya temui.

Dari berbagai cabang keilmuan kulit dan kelamin, di bidang mana yang menjadi passion terbesar Dokter?

DokRuri:

Kalau saya sih minat dermato-venereologi secara umum, jadi saya gak memilih-milih kasus tertentu yang saya minati. Rasa suka tersebut timbul dan berubah-ubah sepanjang perjalanan saya di bidang kulit. Waktu saya mengerjakan thesis tentang morbus hansen (MH), saya sangat menyukai MH di mana jiwa sosial saya semakin tumbuh. Saat saya mulai praktik sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin, saya banyak menemukan pasien-pasien psoriasis. Jadi saya sempat passionate di psoriasis. Bahkan bergabung di organisasi masyarakat, namanya Halo Psoriasis Indonesia. Nah, kesukaan itu terus berubah-ubah karena ilmu sifatnya dinamis. Ada kalanya kita saat ini sukanya A di kemudian hari sukanya B. Lalu saat saya banyak berkecimpung di dunia kecantikan, saya suka di laser karena ternyata laser itu berbeda-beda tergantung dari orang yang mengerjakanya. Istilahnya “ The Man Behind The Gun”. Misal, saya mengerjakan laser pada A dengan dokter lain yang mengerjakan laser pada A bisa memiliki hasil yang berbeda. Jadi saat saya mendapat tawaran untuk bergabung di KSDLI, saya senang banget karena akhirnya saya bisa mempelajari laser dengan lebih dalam lagi. Saya juga menyukai Artificial Intelligence (AI). Saya sempat membaca buku yang ditulis oleh Yuval Noah Harari. Di dalam bukunya, beliau mengatakan dokter yang tidak menggunakan AI pada akhirnya akan kalah dengan dokter yang menggunakan AI. Jadi AI bukan untuk menggantikan dokter, namun membantu dokter supaya pasien dapat pelayanan yang lebih baik. Apalagi di masa pandemi ini, ternyata telemedicine sangat berperan sekarang.Semua serba teknologi. Saya ingin bisa belajar AI. Di  Indonesia rasanya belum ada rasanya dokter kulit yang khusus belajar tentang ini. Kalau di bidang lain seperti penyakit dalam udah ada dokter-dokter yang mempelajarinya.

Apa momen-momen berkesan dan tantangan-tantangan yang dirasakan selama pendidikan atau selama menjadi dokter spesialis Kulit dan Kelamin?

DokRuri:

Momen yang paling berkesan adalah saat pendidikan spesialis pastinya. Dimulai dari proses pendaftaran PPDS, di mana saya mengikuti dua kali ujian seleksi baru akhirnya dinyatakan lulus seleksi program PPDS Ilmu Kulit dan Kelamin di Unpad dan mulai menjalani pendidikan pada bulan September 2011. Teman sekelompok saya ada 5 orang satu periode (dr. Fitra Hergyana, Sp.KK dari Karawang, dr. Nur Dalilah, Sp.KK dari Jakarta, dr. Desidera Husadani, Sp.KK dari Lampung, dr. Devi Ermawaty, Sp.KK dari Bandung). Walaupun kita lulusnya ada yang nggak bareng, tapi itu kan semuanya soal waktu, ya. Pada akhirnya semua akan menjadi Sp.KK.

Selama sekolah tentu saja banyak tantangan yang harus dihadapi terutama bila sudah berkeluarga dan memiliki anak. Saat itu, suami sedang bertugas di Lebanon dan anak pertama saya dirawat oleh kakak di Jakarta. Saya selalu pulang ke Jakarta tiap Jumat sore dan menyetir sendiri ke Bandung setiap Senin jam 4 subuh. Perjuangan juga berlanjut di akhir masa pendidikan spesialis, saat kehamilan anak kedua menginjak usia 6 bulan, mulai dari ujian board di Makassar hingga maju sidang thesis. Saat itu saya tidak selalu up, ada kalanya saya merasa down. Tapi yang penting bagaimana cara untuk menjaga semangat kita tetap menyala. Saat down, saya akan mengingat anak-anak saya dan apa tujuan saya sekolah. Selain itu, punya support system yang baik juga sangat penting (seperti suami), namun kita tidak boleh bergantung pada itu karena support system kita pun pasti punya masalah sendiri, sehingga kita harus selalu menguatkan diri kita sendiri karena pada akhirnya semua soal waktu dan akan berlalu. Setelah menjadi dokter spesialis kulit dan kelamin, tantangan yang dihadapi berbeda lagi karena sudah mulai terjun langsung ke masyarakat dan harus berdiri sendiri. Berkembangnya media sosial membuat kita harus berhati-hati saat berkomunikasi dengan masyarakat. Saya percaya bahwa dokter juga termasuk scientist, bukan hanya mendiagnosis penyakit namun juga bisa berkomunikasi dengan baik kepada masyarakat dalam penyampaiannya sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang benar.

“Saya percaya bahwa dokter juga termasuk scientist, bukan hanya mendiagnosis penyakit namun juga bisa berkomunikasi dengan baik kepada masyarakat dalam penyampaiannya sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang benar.”

dr. ruri diah pamela, sp.kk, finsdv

Apa pesan dan kesan untuk kami, mahasiswa kedokteran dan dokter umum yang bercita-cita menjadi seperti Dokter Ruri?

DokRuri:

Temukan minat dan passion sejak menjadi mahasiswa kedokteran, sehingga setelah menjadi dokter sudah nggak bingung dan tahu mau ngapain setelah itu. Dokter spesialis bukan satu-satunya profesi kedokteran yang hebat. Banyak juga dokter yang tidak spesialis tetapi hebat-hebat. Setelah menemukan minat yang penting adalah konsisten. Berbagai kendala yang ditemui seringkali membuat orang berhenti di tengah jalan. Jadi, jangan berhenti di tengah jalan dan selesaikan apa yang sudah dimulai! Seperti yang sudah dilakukan oleh Dermapamine itu sudah on the track, sudah konsisten membuat segala macam yang berhubungan dengan passionate-nya.

“Jangan berhenti di tengah jalan dan selesaikan apa yang sudah dimulai!”

dr. ruri diah pamela, sp.kk, finsdv

Apa pesan dan kesan Dokter Ruri untuk Tim Dermapamine?

DokRuri:

Pertama, menjadi dokter berarti harus belajar seumur hidup. Jangan langsung merasa paling tahu semuanya karena ilmu itu selalu dinamis.

Kedua, selalu menjaga hubungan baik dengan siapapun. Hormati guru-guru sampai kapan pun. Jaga hubungan yang baik sebagai junior dan senior.

Ketiga, bersikaplah elegan ke masyarakat. Arti elegan ialah bersikap sebagai seorang dokter. Sebaiknya profesi kita tidak dipakai untuk berjualan serta belajar bagaimana berkomunikasi yang baik ke masyarakat.

Keempat, konsisten dengan apa yang sedang ditekuni sekarang hingga cita-citanya tercapai.

Leave a Reply