Retaknya Cermin Jiwa Anak Bangsa (Oleh: dr. Firyal Maulia)

Negeri ini terangkai dari ribuan pulau yang mengapung di atas lautan di sepanjang garis katulistiwa, kita menyebutnya sebagai Tanah Air. Tanah Air Indonesia terbagi menjadi 34 provinsi dan memiliki 1.331 suku yang tercatat oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2010. Perbedaan etnik dan budaya yang sangat beragam membuat Indonesia sangat ajaib. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, semboyan yang terpatri di sepasang cakar tiap Garuda Pancasila. Ibu pertiwi ini besar karena berhasil mempersatukan jutaan perbedaan yang memisahkan anak bangsanya. Sang ibu berhasil merekatkan perbedaan budaya dan kebiasaan masing-masing anak suku dengan satu senjata paling ampuh, Bahasa. Bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia telah melepaskan bangsa ini dari belenggu dan teror adu senjata di zaman revolusi. Proklamasi Kemerdekaan digagas, ditulis, dibacakan dan disiarkan menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa yang disetujui sebagai bahasa nasional, identitas bangsa. Anak bangsa dari abad ke abad terus mencari identitas sejatinya. Setelah menemukan dasar identitas, yaitu bahasa, anak bangsa tidak berhenti di situ. Anak-anak pertiwi melanjutkannya  dengan menggali akar budaya dan kearifan lokal untuk mempersatukan perbedaan prinsip mengenai Sang Ibu. Bangsa ini akhirnya mengenalnya sebagai Pancasila, landasan berpikir bagi tiap anak bangsa. Dasar bagi kita untuk meresapi dan mencintai jati diri kita sebagai Orang Indonesa.

Pancasila. Kata yang berakar dari bahasa Sansekerta, panca berarti lima dan sila berarti prinsip. Dua kata yang melebur menjadi satu frasa yang bermakna lima prinsip. Lima prinsip yang menjadi fondasi filosofis bangsa Indonesia. Bangsa ini menyebutnya dengan ideologi. Bunyi lima sila tersebut, yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pancasila digadang sebagai ideologi bangsa oleh Soekarno untuk menghapuskan segala bentuk penjajahan yang mengungkung bangsa ini sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Akan tetapi, menjelang satu abad kemerdekaan Republik Indonesia muncul pertanyaan dalam benak saya. Apakah bangsa Indonesia sudah sepenuhnya merdeka?

Negara Indonesia adalah negara hukum, seperti ditegaskan pada pasal 1 ayat 3 UUD 1945. Saya sebagai warga negara Indonesia berusaha sebisa mungkin taat pada konstitusi yang berlaku di Indonesia. Namun, tampaknya tidak semua warga negara Indonesia tunduk pada konstitusi. Pada kenyataan sehari-hari di masyarakat, ada golongan-golongan yang bertingkah dan berkeyakinan bahwa golongannya kebal dari hukum. Golongan-golongan tersebut merasa berada di atas hukum.

Mereka mengaku warga Indonesia dan berani di sumpah di bawah kitab untuk melindungi kepentingan rakyat Indonesia. Sangat disayangkan, kaum tersebut gagal memahami makna kata “toleransi”. Bangsa ini memang tidak mudah bertoleransi karena memang bentuk awal dari negeri ini bukanlah negara kesatuan. Leluhur bangsa ini hidup dalam fraksi-fraksi yang saling berusaha menguasai wilayah satu sama lain. Satu dinasti berusaha menyingkirkan dinasti yang lain melalui perang bersenjata yang berujung lautan darah. Kerajaan atau monarki adalah cikal bakal terbentuknya Indonesia. Lantas setelah ribuan liter darah yang tertumpah untuk membangun bumi pertiwi yang kita sebut Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengapa kita justru saling menjajah satu sama lain? Bukankah kita bersaudara? Bukankah dulu nenek moyangmu, nenek moyangku, nenek moyang kita bersatu untuk menghapuskan segala bentuk penjajahan?

Konstitusi di Indonesia secara resmi mengakui enam agama, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Seluruh umat beragama di Indonesia dilindungi oleh hukum dan diizinkan untuk menjalankan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing. Toleransi dalam beragama menjadi titik vital bagi kehidupan bangsa yang damai. Agama yang dianut seseorang seharusnya tidak akan menjadi masalah jika kita memahami konsep dari bertoleransi. Ketuhanan Yang Maha Esa. Nilai pertama yang tertuang dalam ideologi bangsa ini. Ketuhanan adalah kebutuhan luhur, setelah kebutuhan primer, sekunder, serta kebutuhan tersier manusia terpenuhi. Jika ketuhanan bukanlah kebutuhan mendasar bagi manusia mengapa kata ketuhanan berada pada urutan pertama pada landasan konstitusi Indonesia?  

Tuhan. Entitas yang keberadaannya menjadi pertanyaan seluruh penghuni bumi. Bumi sendiri pun bertanya siapakah Tuhannya. Bumi, planet ke tiga terdekat dari matahari. Planet yang daya tarik intinya membuat kita dapat berjalan tegak. Paling tidak bumi tahu, kalo dia bukanlah siapa-siapa dibanding matahari. Matahari adalah bintang yang memikat bumi. Begitu luar biasa daya pikat matahari, sehingga bumi berputar mengelilinginya. Saya sebagai manusia sering bertanya pada diri sendiri. Siapa saya?. Kepada siapa saya berputar?. Jika bumi memiliki matahari. Lalu saya memiliki apa?

Bangsa Indonesia yang mengaku menjunjung Ketuhanan pada dasar negaranya, masih sering lupa apa makna Bertuhan. Saya juga sebagai anak bangsa tak luput dari lupa. Saya sering merasa bahwa saya paling benar, saya tidak terkalahkan, dan semua orang harus mendengarkan saya. Lalu, saya mencoba berkontempelasi. Di saat-saat teregois dalam hidup saya, saya selalu mencoba diam dan melihat teman-teman saya. Teman-teman sejawat mahasiswa kedokteran. Saya tatap wajah mereka satu persatu. Hasil dari menatap mereka kadang berujung tawa. Kami semua berbeda. Di satu titik hidup kami sebagai mahasiswa, mahasiswa kedokteran khususnya, kami pernah merasa kamilah yang paling pintar, kami yang paling berhak, kamilah yang harus dihormati. Namun, waktu menggerus semua ego kami. Saya disadarkan dengan sebuah proses panjang. Proses menjadi bagian dari kaum paling egois yang pernah ada pada sejarah Indonesia. Kaum terpelajar.

Pada kenyataanya, hidup menjadi manusia seutuhnya bukan lagi mempermasalahkan siapa Tuhan yang orang lain sembah. Bagaimana saya mau menuhankan Tuhan jika saya belum bisa memanusiakan manusia?. Demokrasi dalam beragama belum dan masih jauh dari kata terlaksana di Indonesia nampaknya. Merayakan hari suci keagamaan saja masih penuh teror senjata dan desing peluru. Bangsa ini, termasuk saya, masih perlu banyak merenung untuk memahami makna Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sila ke dua yang terukir manis di bawah Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Saya sebagai manusia seringkali malu saat melihat induk hewan memperlakukan anaknya. Induk hewan menjaga anaknya dengan mempertaruhkan nyawanya. Mengamati perilaku hewan membuat saya merasa miris. Hewan yang secara taksonomi derajatnya lebih rendah dibanding manusia saja paham cara memperlakukan sesama jenisnya. Manusia, terutama rakyat Indonesia, terlalu sering lupa menjadi manusia. Sulit rasanya menjunjung kata “beradab” jika masih gagal menjadi manusia yang bersifat selayaknya manusia.

Kaum yang mengaku terpelajar, saya salah satunya, kerap kali melupakan status terpelajar yang dipikulnya dan justru bersikap anarkis. Saya juga tidak habis pikir, untuk apa gelar beruntun tertaut di depan dan di belakang nama seorang terpelajar di Indonesia?. Perdebatan pada forum umum berskala nasional yang diliput media massa saja, kaum terpelajar negeri ini belum sanggup bersikap profesional. Untuk kesekian kalinya rakyat Indonesia harus menyaksikan anarki demi anarki yang disajikan sebagai jajanan sehari-hari melalui media massa. Pada titik ini, hewan lebih mengerti dan menerapkan perikehewanan dibandingkan manusia yang mengakui manusia tapi tidak berkeperimanusiaan. Bagaimana kita mau menjadi manusia yang beradab kalau makna kemanusiaan saja masih gagal dipahami?

Sila ke tiga dan ke empat memiliki makna yang dalam. Persatuan Indonesia ditempatkan menjadi sila ke tiga karena para penggagas Pancasila meyakini bahwa persatuan sebuah bangsa hanya bisa dicapai setelah manusia penghuni bangsa tersebut menjunjung nilai kemanusiaan. Menjadi manusia yang beradab demi mewujudkan persatuan Indonesia. Saya pikir kita perlu banyak berlatih memperlakukan saudara-saudara kita yang berbeda kesukuannya dari kita. Kita perlu memahami arti kata hormat dan berlatih menghormati sesama manusia. Mungkin suatu hari nanti akan terwujud mimpi kita bersama, mimpi seluruh rakyat Indonesia. Persatuan Indonesia.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Saya selama 21 tahun tercatat sebagai warga negara Indonesia merasa belum berkontribusi maksimal dalam memainkan peran saya. Peran yang memiliki pengaruh paling besar terhadap negeri ini secara hakiki. Peran sebagai rakyat. Saya sebagai rakyat mengaku belum mampu memimpin diri saya sendiri untuk memberikan kemampuan terbaik saya untuk bangsa ini.

Damai sejahtera akan mungkin dicapai jika tiap individu yang memegang peran sebagai rakyat Indonesia menjalankan perannya dengan baik. Selama menjadi penduduk Indonesia saya lebih sering menyalahkan kinerja atasan saya, entah itu orang tua saya, kakak kelas saya, senior saya di kampus, dosen saya, pemerintah, dan pada ujungnya saya menyalahkan Tuhan. Negeri ini memang panggung sandiwara. Peran saya di negeri yang teramat besar ini, saat saya menulis esai ini, tidak lain hanyalah seorang hamba. Menghamba pada kekuatan besar, Tuhan. Sebagai rakyat Indonesia saya pun hanyalah seorang hamba yang tunduk pada konstitusi yang berlaku dan pemerintah yang mencanangkannya.

Jika dan hanya jika keempat butir pancasila dipahami maknanya dan diterapkan secara kronologis (sila pertama dijalankan baru menjalankan sila ke dua, dan seterusnya) dalam keseharian anak bangsa Indonesia, barulah cita-cita besar bangsa ini yang terkandung dalam sila ke lima dapat terwujud. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pada kenyataannya sifat dasar manusia tidak memungkinkan untuk bersifat adil. Manusia pasti memiliki kecenderungan. Entah kecenderungan buruk atau baik. Paling tidak kita bisa mencoba untuk mendekati sifat adil.

Manusia memang diciptakan tidak sempurna sebagai individu. Namun, jika manusia mau menyelaraskan pikirannya dengan manusia lain melalui toleransi, gotongroyong, musyawarah, mufakat, melebur menjadi satu pikiran. Saya yakin manusia bisa saling menyempurnakan. Mata saya dapat menjadi cermin bagi mata anda mengenai kondisi Indonesia. Satu anak bangsa dengan anak bangsa yang lain dapat menjadi cermin untuk saling berefleksi. Ibu pertiwi akan tersenyum lebar karena bangga-sebangganya melihat anak-anaknya jika suatu hari nanti kita dapat menyatukan rasa, pikiran, dan aspirasi di bawah naungan konstitusi yang lurus dan jujur.

Hemat saya, pada hari ini saya selesai menulis esai ini, Indonesia masih berada dalam naungan penjajahan. Berbagai perbudakan baru abad ke-21 dikemas dalam wujud pembodohan mental dan degradasi moral anak bangsa. Mengutip Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya Anak Semua Bangsa (1980): “Kau Pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka , dengan bahasa yang mereka tahu”.

Saya rasa pendidikan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sangat vital bagi kelangsungan generasi penerus bangsa. Belajar mencintai ideologi dan norma-norma yang berakar di negeri ini sungguh akan sangat membantu anak-anak bangsa memahami jati dirinya sebagai Orang Indonesia. Karena ancaman penjajahan kini sungguh terpampang jelas di depan mata dengan tergerusnya norma-norma dan ideologi bangsa Indonesia. Pancasila digadai dan ditukar dengan nilai-nilai yang menjunjung kapitalisme. Jika bukan saya, bukan anda, bukan kita yang menyelamatkan Pancasila, lalu siapa?

Image Source : Riau Online

Leave a Reply