Shut Up, But Listen…

Sudah menginjak di bulan Desember 2020, cukup lama kita beradaptasi hidup di tengah-tengah wabah COVID-19. Pemilihan kata “cukup lama” menjadi salah satu sabar yang sederhana untuk tidak banyak mengeluh, karena sesungguhnya hampir 300 hari kehidupan di Indonesia tidak baik-baik saja. People are struggling living normal life, hadeh, normal untuk lebih banyak ikhlas dan legowonya, contoh… gajih gue cuma segini, sedangkan pekerjaan capek, tugas ga berhenti-henti…

Biasanya ada aja yang komentar berani cut pembicaraan terus memulai intonasi lantangnya sembari berkata…

“Bersyukur lo udah kerja, liat tuh keluarga gue, ayah gue di PHK, gue pusing cari duit dari dimana, sedangkan gue fresh graduate, nyari kerjaan saat ini susahnya jutaan kali lipat”

“Lebih lagi gue… makan lauk minimalis, indomie jadi makanan pokok sehari-hari, sisa duit gue sisihkan untuk bekal beli susu, popok, dan perlengkapan anak”

Ya cukup. Muak banget denger keluhan – di balas – keluhan lagi. Semua orang itu ada masalah dengan standarnya masing-masing, ga harus lo bandingin sama masalah lo. Kadang orang-orang komentar pedes dengan membandingkan seberapa miris dirinya itu biar apa tujuannya, apakah demi mendapatkan rasa empati dari ”si pencerita”?

Di situ salahnya kita menempatkan diri. Belajar untuk saling menghargai, kesulitan dan kebahagiaan seseorang itu ada levelnya di masing-masing orang. Terkadang dengan membandingkan musibah besar yang pernah kita alami malah seakan menyepelekan masalah yang sedang dihadapi orang lain. Sebelum berkomentar, coba dengarkan, telaah background lawan bicaramu tadi. Dengan membandingkan masalah yang dimiliki, dan menceritakan beban yang lo bawa lagi, seakan menjadi tumpukan sampah, yang seharusnya lenyap, malah makin menggunung. “Always listening,always understandingtagline asuransi sebelah emang paling bener. Kalau temen/pacar/suami/istri/dll lo lagi curhat pakai telinga untuk mencerna a whole story, hindarkan distraksi dari scrolling Instagram, shut your mouth, dan coba amati dengan sesame tentang isi topik dan latar belakang lawan bicara lo tadi. Jika hendak berkomentar, pilihlah susunan kalimat yang tepat, baik diucap, nyaman didengarkan, atau jika masih ingin menggali cerita lebih dalam try to ask question. Disitu kamu belajar tentang etiket dalam berkomunikasi.

https://i.pinimg.com/564x/6c/0c/09/6c0c09b6eeba598a69c257ca14d8b53a.jpg

Source: Pinterest

“Lipstik-lipstik ku udah expired, gara-gara ga kepake lama, muka ketutup masker, kan sayang udah beli-beli”

Top Facial Hair Removal Methods | BEAUTY/crew

Source: google

Lo mau komen apa?

Leave a Reply