[.feat] apa hubungannya: parkinson dan dermatitis seboroik?

Oleh: dr. Yudith Anindita, dr. Dessy Dwi Zahrina, dan dr. Muthia Kamal Putri

Disupervisi oleh: dr. July Iriani Rahardja, Sp.DV (DV Unpad Supervisor, RS Karya Medika Bekasi, Christy Skin Clinic, dan Bekasi Skin Center)

Parkinson merupakan salah satu penyakit neurodegeneratif progresif. Secara umum, prevalensi pada usia lebih dari 65 tahun sekitar 1,8% atau 2 dari 100.000 jiwa. Beberapa gejala dapat dialami pada penyakit ini, seperti: tremor istirahat, rigiditas, akinesia, dan postural instability, atau yang biasa disingkat TRAP. Hal ini disebabkan karena berkurangnya neuron dopaminergik di substansia nigra, sehingga terapi yang diberikan adalah prekursor (senyawa yang berpartisipasi dalam reaksi kimia yang menghasilkan senyawa lain) dopamin, L-dopa. 1,2

Ternyata, manifestasi klinis Parkinson tidak terbatas hanya pada sistem saraf saja, tapi juga berdampak pada kulit. Salah satu yang sering ditemukan adalah dermatitis seboroik. Dermatitis seboroik atau biasa disebut dengan seborrheic eczema adalah adalah suatu kelainan kulit kronis yang dikarakteristikan sebagai plak eritematosa disertai skuama halus. Secara kasat mata, kulit tampak berwarna merah muda ditutupi sisik atau skuama berminyak dan krusta. Kelainan kulit ini dapat terjadi pada bayi dan dewasa. Dermatitis seboroik sering dikaitkan dengan Malassezia sp, dimana berisiko muncul pada individu yang tinggal di lingkungan dengan kelembaban tinggi. Predileksi dermatitis seboroik terjadi pada lokasi dengan aktivitas glandula sebasea yang tinggi, seperti kulit kepala, wajah (terutama lipatan nasolabial), telinga, dada, dan area intertriginosa (inguinal, inframammae, dan aksilla). Area yang lebih jarang terkena termasuk interskapula, umbilikus, perineum dan lipatan anogenital.1-4

Prevalensi dermatitis seboroik dapat mengenai berbagai ras dan kelompok etnis di seluruh dunia. Namun, insidensi tertinggi dari dermatitis seboroik dengan bentuk klinis yang parah sering dijumpai pada penderita acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dan individu dengan gangguan neurologis seperti penyakit Parkinson. Prevalensi terjadinya dermatitis seboroik pada pasien parkinson sebanyak 18,6-59%. 3-4

Derajat lesi dermatitis seboroik dapat timbul dari gejala ringan hingga berat. Gejala ringan berupa ketombe akan tetapi gejala yang berat bisa berupa lesi kemerahan dan bersisik yang memengaruhi hampir seluruh permukaan kulit. Pasien dengan kondisi ini mengeluhkan ketidaknyamanan seperti gatal, sensasi terbakar, sampai gangguan estetika yang memicu stress psikososial yang dapat memengaruhi kualitas hidup pasien.1

Perjalanan penyakit dermatitis seboroik ini bersifat kronis dan dapat kambuh (rekuren). Pengobatan dermatitis seboroik ditujukan untuk menekan gejala klinis yang timbul namun tidak dapat menyembuhkan secara total, sehingga kondisi ini memerlukan pengobatan yang rutin.  Pendekatan tatalaksana dermatitis seboroik sebaiknya dipilih berdasarkan tampilan klinis, perluasan dan lokasi penyakit.4

Apa hubungannya Parkinson dan Dermatitis Seboroik?

Etiologi terjadinya dermatitis seboroik pada pasien parkinson belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Beberapa menyatakan karena adanya disfungsi otonom, peran androgen, dan efek sistemik melanocyte stimulating hormone (MSH) pada penyakit Parkinson yang berkaitan erat dengan kondisi dermatitis seboroik.4 Melalui tiga aktivitas terssebut, akan semakin berkurangnya sekresi dopamin pada parkinson, mengakibatkan sekresi sebum (minyak) berlebih. Kumpulan sebum tersebut dapat meningkatkan kejadian dermatitis seboroik. Namun, pada penelitian terdahulu yang mendukung dikatakan bahwa pemberian agen agonis dopamin (L-dopa), diteliti dapat mengurangi ekskresi sebum. 4

Dalam sebuah studi diteliti tentang hubungan genetik pasien dengan Parkinson dan kejadian dermatitis seboroik. Menurut Laurence, secara genetik penderita parkinson cenderung berpotensi mengalami akumulasi lipid pada intraselular dan peningkatan permeabilitas lipid. Oleh karena itu, akumulasi lipid yang terjadi pada penderita Parkinson terutama pada kulit, berperan dalam meningkatkan terjadinya dermatitis seboroik.2

Dalam sebuah studi retrospektif yang membahas tentang hubungan antara dermatitis seboroik dan penyakit parkinson, Tanner et al. memaparkan bahwa dermatitis seboroik mungkin mewakili adanya gejala klinis pada saraf, hal ini disebabkan oleh kesalahan regulasi sistem saraf otonom. Dari keterlibatan saraf ini, dermatitis seboroik dapat berfungsi sebagai penanda awal dari penyakit parkinson.5

Skorvanek menyatakan bahwa penyakit dermatitis seboroik pada penderita parkinson terjadi karena kombinasi tiga hal, yaitu sekresi sebum yang berlebihan, adanya koloni Malassezia sp., dan respons imun inangnya. Hal yang pertama, sekresi sebum yang berlebihan sering muncul pada individu yang tinggal di lingkungan panas dan iklim tropis. Produksi keringat yang berlebih merupakan faktor risiko yang dapat memperparah gejala dermatitis seboroik. Terciptanya lingkungan lembab berpotensi menghasilkan sekresi sebum yang berlebihan. 4

Kedua, peran proliferasi Malassezia sp. dapat mempengaruhi patogenesis dermatitis seboroik. Malassezia sp. yang paling sering dikaitkan dengan dermatitis seboroik adalah M. globosa dan M. restrikta, Keduanya merupakan golongan yeast yang membutuhkan sumber lipid dari luar tubuhnya.6 Pembentukan hifa Malassezia dan sintesis melanin dirangsang oleh pemberian agonis dopamine (L-dopa) dengan mendorong invasi Malassezia pada saraf penghasil dopamin. Hal tersebut berkontribusi pada akumulasi melanin di saraf tersebut. Meski keberadaan Malassezia di substansia nigra masih harus dikonfirmasi mengenai peran Malassezia dalam etiologi penyakit Parkinson.2

Ketiga, pada kejadian dermatitis seboroik dipengaruhi oleh respon imun inang. Dibuktikan bahwa adanya hubungan dari penyakit autoimun dengan gejala parkinsonisme dan dermatitis seboroik. Hal ini didukung dari lemahnya kontrol mikroba dalam tubuh pada aktivasi sel imun, yang dimediasi oleh sel T. 2

JADI, DOPAMINE SEEKERS, BELUM DIKETAHUI SECARA PASTI HUBUNGAN ANTARA KEJADIAN DERMATITIS SEBOROIK DENGAN KASUS PARKINSON. DARI BEBERAPA PENELITIAN DAPAT DISIMPULKAN BAHWA FAKTOR PRODUKSI SEBUM, PERAN PROLIFERASI MALASSEZIA SP DAN LEMAHNYA RESPON IMUN TERHADAP KONTROL MIKROBA MENJADI PENYEBAB KEJADIAN DERMATITIS SEBOROIK PADA PENDERITA PARKINSON.

Sumber:

  1. Mastrolonardo, M., Diaferio A, Logroscino G. 2003. Seborrheic Dermatitis, Increased Sebum Excretion, and Parkinson’s Disease Survey of (Im)possible Links. Dapat dilihat di: https://www.researchgate.net/publication/10800407
  2. Laurence, M., Julian B, Frederic C. 2019. Malassezia and Parkinson Disease. Frontiers in Neurology: Hypothesis and Theory; Vol. 10 Article 758.
  3. Ravn, A.H., Jacob P. T., Alexander E. 2017. Skin Disorders in Parkinson’s disease: Potential Biomarkers and Risk Factors. Clinical,Cosmetic, and Investigational Dermatology: 10, page 87-92.
  4. Skorvanek, M., Kailash P B. 2016. The Skin and Parkinson’s Disease: Review of Clinical, Diagnostic, and Therapeutic Issues. Wiley Online Library, dapat dilihat di: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/mdc3.12425.
  5. Tanner C, Albers K, Goldman S, et al. Seborrheic Dermatitis and Risk of Future Parkinson’s Disease. Neurology. 2012;78(1):2012.
  6. Del Rosso JQ. Adult seborrheic dermatitis. A status report on practical topical management. J Clin Aesthet Dermatol 2011;4:32–38.

Leave a Reply