Yuk, Cegah Terbentuknya Bopeng Akibat Jerawat dengan Laser!

OLEH: DR. MUTHIA KAMAL PUTRI, DR. FIRYAL MAULIA, DR. RURI DIAH PAMELA, SP.KK

Kenali struktur Kulit dan Tipe Kulit Anda!

Kulit merupakan organ terbesar sekaligus yang terluar pada tubuh manusia. Sifat kulit manusia sangatlah unik, kompleks, dan memiliki komponen yang dinamis. Struktur kulit secara ringkas dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu epidermis (kulit bagian luar), dermis (kulit bagian dalam), dan lapisan lemak bawah kulit (subkutan). Epidermis merupakan bagian terluar yang melindungi tubuh manusia dari berbagai faktor eksternal, seperti sinar matahari, debu, bakteri, dan berbagai zat asing lainnya. Pada lapisan epidermis terdapat sel penghasil zat pigmen melanin (melanosit). Pada lapisan dermis, sebagian besar struktur aksesori kulit berada, seperti folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar minyak. Di bawah lapisan kulit terdapat lapisan lemak yang berfungsi sebagai bantalan pelindung. [7-8, 10, 13]

Bagaimana Jerawat Dapat Terbentuk?

Apa itu Bopeng akibat Jerawat dan Bagaimana Proses terbentuknya?

Selama masa penyembuhan luka pasca jerawat, arsitektur normal sel-sel kulit menjadi berubah dan susunan kolagen tersingkirkan, seingga muncul lah skar ata bopeng akibat jerawat. Sayangnya, bopeng akibat jerawat sejatinya tidak benar-benar hilang, meskipun penampilannya umumnya membaik seiring waktu bahkan bisa tersamarkan oleh penggunaan make-up (Cosmetic Camouflage). Berikut ini beberapa tipe bopeng yang dapat terjadi akibat jerawat: [10, 14]

  • Bopeng Ice-pick – cekungan yang dalam, sempit, kesan bopeng berbintik-bintik.
  • Bopeng Rolling – cekungan luas dengan tepian miring
  • Bopeng Boxcar  – cekungan luas dengan tepian lancip
  • Bopeng Atrofik (jaringan mengecil)   – cekungan datar, bopeng tipis (anatoderma)
  • Bopeng Hipertrofik atau keloid (jaringan memlebar) – bopeng tebal dengan kesan berbenjol-benjol.

(Sumber: Oakley, A., 2020)

Bagaimana Dokter Spesialis Dermatovenereologi/ Kulit dan Kelamin Mengobati Problema Jerawat?

Di Indonesia, terapi pertama untuk jerawat adalah hadi dalam bentuk oles atau topikal. Semakin parah derajat jerawat, terapi yang diberikan berupa terapi kombinasi. Berbagai terapi yang digunakan untuk mengobati jerawat terutama di Indonesia secara ringkas tercantum di Tabel 2. [6, 10, 16, 22]

Tabel 1. Berbagai Terapi Jerawat yang digunakan di Indonesia

Lini terapiDerajat Jerawat
RinganSedangBerat
PertamaAsam retinoat + Asam Salisiloles atau kombinasi dengan benzoil peroksida oles. Antibiotik minum bila perlu.Kombinasi asam retinoat + benzoil peroksida oles. Antibiotik minum (Doksisiklin) bila perluAntibiotik minum(Azitromicin + Quinolon) antibiotik oles dengan atau tanpa benzoil peroksida oles
KeduaAsam azelaik olesAsam azelaik oles atau asam salisilat oles atau suntik steroid (Triamcinolon Asetonide) pada jerawat. Antibiotik minum bila perluAsam azelaik oles atau asam salisilat oles atau suntik steroid (Triamcinolon Asetonide) pada jerawat. Antibiotik minum bila perlu
KetigaAsam retinoat kombinasi dengan benzoil peroksidadan antibiotik oles.Antibiotik minum bila perlu.Asam retinoat kombinasi dengan benzoil peroksidadan antibiotik oles.Antibiotik minum bila perlu.Asam Azelaik, Asam Salisil, danTriamcinolon Asetonide oles.
Isotetinoin minum.
Pada tipe akne/ jerawat  fulminan (kambuhan) ditambahkan kortikosteroid/ glukokortikoid minum.
 
Terapi tambahanSkincare (Perawatan Kulit) dan kosmetiseutikal (Ekstraksi komedo), Skin Peeling (pengelupasan kulit kimiawi), Laser dan alat berbasis energi, terapi fotodinamik, Terapi tambahan seperti: ABA, Nicotinamide, Zinc PCA, Sunscreen yang hipoalergenik dan non-komedogenik,Diet rendah gula.

(Sumber: Bagan Rekomendasi Terapi Akne berdasarkan IAEM 2015 dan Fitzpatrick’s Dermatology)

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, resistensi terhadap terapi antibiotik oles maupun minum untuk pengobatan jerawat makin tinggi. Oleh karena itu, saat ini banyak terapi tambahan digunakan beriringan dengan terapi utama untuk mengatasi jerawat. Salah satu terapi tambahan yang digunakan adalah laser. [6, 10, 11, 21]

Laser dan berbagai alat terapi berbasis energi mampu menembus lapisan kulit dalam (dermis), lalu seolah melukai permukaan kulit paling luar (epidermis). Setelah cahaya laser sampai di dalam jaringan kulit, sinarnya akan merangsang produksi kolagen serta memicu sel yang akan meregenerasi jaringan kulit. Hasilnya kulit akan menjadi lebih kencang dan kenyal. Kemudian, lapisan kulit paling luar yang rusak secara perlahan menghilang, sehingga tumbuh lapisan baru dari bagian kulit dalam. [4, 9]

Bermacam jenis laser memiliki target yang berbeda dalam kulit. Panjang gelombang laser menentukan fokus target di jaringan kulit. Target jaringan yang dituju oleh laser dengan panjang gelombang tertentu dikenal dengan kromofor. Kromofor utama laser yang diketahui luas adalah air, hemoglobin (zat yang terkandung pada sel darah merah), dan melanin (pigmen kulit). Sebagai contoh, laser Nd: YAG memiliki kromofor atau target jaringan berupa melanin sehingga baik digunakan untuk menghilangkan bercak hitam dan sering digunakan untuk menghilangkan tattoo. Ada pula laser yang fokus targetnya berupa hemoglobin sehingga bagus digunakan untuk menghilangkan kemerahan di kulit, seperti Pulsed Dye Laser (PDL). Dengan penggunaan yang tepat di tangan ahli seperti dokter spesialis kulit dan kelamin/dermatovenereologi, maka pemilihan jenis laser untuk berbagai keluhan kulit seperti bopeng, jerawat, atau flek hitam dapat memberikan hasil yang optimal dengan efek samping yang minimal. [4, 9]

Penggunaan Laser sebagai Terapi Jerawat 

Tabel 3. Jenis laser 

Jenis Laser
AblatifNon Ablatif
Non fraksionalFraksionalNon fraksionalFraksional
CO2 FraksionalEr: YAGYSGG CO2 fraksionalNd: YAGpicosecond pulsePDL KTPEr-dopedER: glass 

(Sumber: Sadick and Cardona, 2018)

Di antara modalitas terapi untuk jerawat, laser dapat menjadi pilihan terapi tambahan yang digunakan bersama dengan terapi utama (Tabel 1) agar memperoleh hasil terapi yang lebih baik dan mencegah komplikasi jerawat (terutama derajat sedang hingga berat), yaitu bopeng. Berbagai modalitas terapi laser dan alat berbasis energi banyak digunakan akhir-akhir ini sebagai pilihan terapi tambahan untuk jerawat. [2, 3, 6, 9]

Laser dan berbagai alat terapi berbasis energi sedang banyak diteliti untuk terapi jerawat. Sinar ultraviolet (UV) sudah lama diketahui bermanfaat untuk pengobatan jerawat. Sebagian besar pasien melaporkan bahwa paparan sinar matahari memperbaiki tampilan jerawatnya. Sinar UV diketahui dapat membunuh bakteri penyebab jerawat, Cutibacterium acnes dan memiliki efek anti radang. [6, 10]

Konsep umum dari terapi jerawat menggunakan berbagai sinar adalah untuk mengaktivasi senyawa porfirin yang terdapat dalam tubuh bakteri Cutibacterium acnes. Dengan paparan sinar, terjadi reaksi yang memicu porfirin menghasilkan radikal bebas yang membunuh bakteri C. acnes. Terapi laser dengan panjang gelombang tertentu juga dapat mengurangi produksi kelenjar minyak dan memicu produksi kolagen untuk regenerasi kulit. Jenis-jenis laser secara singkat dapat dilihat di Tabel 3. [10, 11, 17, 23]

Beberapa laser dan alat berbasis energi (light-based devices) terbukti efektif dalam mengobati jerawat. Terapi LLLT (Low-level laser (light) therapy) menjadi segmentasi teknologi yang marak digunakan pada beberapa kondisi yang membutuhkan rangsangan/ stimulasi penyembuhan, dapat meredakan nyeri dan peradangan, dan membantu mengembalikan fungsi jaringan. Sistem ini terdiri dari berbagai spektrum (rentetan warna kontinu yang terurai), contohnya inframerah. Mekanismenya dalam penyembuhan jerawat pun belum sepenuhnya dimengerti, namun dipercayai akibat terbentuknya photothermal (suhu cahaya) dan reaksi photo-chemical (cahaya kimiawi)  yang mempengaruhi kerja kelenjar minyak dan faktor pendukung lainnya. Penelitian yang dilakukan di Iran, 28 orang (18 wanita dan 10 pria) terbukti dapat memperbaiki kulit berjerawat setelah 10 minggu terapi dengan LLLT. [1-2, 20]

Leave a Reply